KUTAI TIMUR, borneoprimenews.co.id — Komunitas Dayak Modang se-Sungai Kelinjau melaksanakan Ritual Adat “Ngenhaq Tenaq” di kawasan Gunung Benteng, sebagai bentuk penghormatan terhadap rencana pengelolaan sumber daya alam di wilayah hukum adat mereka.

Ritual dimulai pukul 11.05 WITA dan berlangsung dengan penuh khidmat. Prosesi dipimpin Kepala Adat Dayak Kabupaten Kutai Timur, Indra Bengeh. Upacara diawali dengan doa dalam bahasa Modang, disertai persembahan sesajian berupa telur, penyembelihan ayam jago, serta anak babi sebagai simbol penghormatan kepada leluhur dan permohonan keseimbangan alam.

kegiatan Ritual Adat “Ngenhaq Tenaq” pun resmi ditutup, meninggalkan harapan akan terjaganya keseimbangan alam, Senin (28/02/2026).

Sekitar pukul 12.40 WITA, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan para tokoh adat dan pejabat daerah. Dalam sambutannya, Indra Bengeh menegaskan bahwa ritual “Ngenhaq Tenaq” merupakan bentuk penghormatan adat sebelum aktivitas pengelolaan sumber daya alam dilakukan. Prosesi ini menjadi wujud permohonan izin kepada leluhur, menjaga keseimbangan alam, serta memohon keselamatan bagi para pekerja dan keberkahan bagi masyarakat Sungai Kelinjau.

Sambutan berikutnya disampaikan Kepala Adat Besar Wehea, Lejiu Be’, yang menyambut baik pelaksanaan ritual sebagai langkah memperkuat kebersamaan dan membawa keberkahan bagi masyarakat.

Kemudian, Kepala Adat Besar Kenya se-Sungai Kelinjau, Pajang, memaparkan sejarah perpindahan Dayak Kenya Long Lees dari Apau Kayan ke Busang sekitar tahun 1940-an, serta menegaskan pentingnya kerja sama antara Dayak Modang dan Dayak Kenya dalam menjaga keharmonisan dan menyelesaikan persoalan bersama.

Camat Kecamatan Busang, Uleh Juk, M.Pd.  menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya panitia dan PT. KNC sebagai sponsor kegiatan. Ia menegaskan bahwa hukum adat diakui negara sepanjang selaras dengan hukum positif, serta budaya adat Modang harus dilestarikan karena mengandung nilai perdamaian dan kebersamaan. Ia juga berharap pengelolaan sumber daya alam dilakukan sesuai aturan pemerintah dan adat setempat, sehingga tidak menimbulkan konflik antar masyarakat.

Apresiasi juga disampaikan Danramil Muara Ancalong yang berharap kegiatan adat ini turut menjaga keamanan dan ketertiban wilayah Sungai Kelinjau.

Perwakilan manajemen PT. KNC menyampaikan komitmen perusahaan untuk menjalankan operasional secara baik dan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Manfaat tersebut diharapkan dirasakan seluruh warga tanpa memandang suku, termasuk Dayak Modang, Dayak Kenya, maupun masyarakat dari suku lain yang tinggal di kawasan tersebut.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Timur, Akhmad Rivanie, menilai ritual ini sebagai warisan budaya yang penting untuk dilestarikan. Ia bahkan melihat potensi besar untuk dikembangkan sebagai agenda wisata budaya di Kutai Timur. Rivanie juga meminta Camat Busang menginventarisasi potensi wisata yang ada di wilayahnya.

Setelah rangkaian sambutan selesai, kegiatan Ritual Adat “Ngenhaq Tenaq” pun resmi ditutup, meninggalkan harapan akan terjaganya keseimbangan alam

, keharmonisan masyarakat, serta keberkahan bagi seluruh wilayah Sungai Kelinjau.

Editor: Uzin – DedyProsesi