Borneo Prime News — Pesta Adat Lom Plai milik masyarakat Dayak Wehea kembali menggema di Desa Bea Nehas, Selasa (7/4/2026). Ritual sakral yang dipadukan dengan Tari Hudoq ini bukan sekadar perayaan, melainkan penegasan identitas budaya yang tetap kokoh di tengah arus modernisasi.

Balutan busana dari dedaunan, topeng berkarakter kuat, serta hiasan kepala menjulang tinggi langsung mencuri perhatian. Para penari Hudoq tampil enerjik sekaligus magis, menghadirkan suasana yang sarat makna spiritual. Setiap gerakan bukan sekadar tari, melainkan simbol komunikasi dengan alam dan penghormatan kepada roh leluhur.

Di pusat ritual, tokoh adat Dayak Wehea memimpin jalannya prosesi dengan penuh khidmat. Doa-doa adat dilantunkan sebagai wujud syukur sekaligus permohonan keselamatan, perlindungan, dan keberkahan bagi seluruh masyarakat.

Aura sakral semakin terasa saat para penari Hudoq mengelilingi arena. Kehadiran mereka dipercaya sebagai penjaga keseimbangan antara manusia dan alam, sekaligus penolak bala yang telah diwariskan turun-temurun.

Ribuan masyarakat tampak memadati lokasi, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap tradisi yang menjadi kebanggaan bersama. Bagi warga Dayak Wehea, Lom Plai bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi napas kehidupan yang menyatu dengan adat dan kepercayaan.

“Ini bukan hanya budaya, ini jati diri kami,” tegas salah satu tokoh adat.

Pesta Adat Lom Plai dan Tari Hudoq di Desa Bea Nehas kembali membuktikan bahwa warisan leluhur Dayak Wehea tidak akan pudar—justru semakin kuat, hidup, dan menggema di tanahnya sendiri.